Selasa, 14 Juni 2016
Dangkal (bukan tulisan untuk dimengerti)
Jumat, 27 Mei 2016
Her.... (Pertemuan....) part I
Sadar atau enggak, sebenarnya kehidupan kita gak jauh beda seperti stasiun, terminal atau bandara. Iya, karena selalu ada pertemuan yang manis dan pedihnya perpisahan tanpa ikhlasan. Mungkin saking banyaknya pertemuan dan perpisahan yang kita alami sampai-sampai kita sudah gak bisa ngebedain mana lambaikan tangan pertemuan dan yang mana lambaian tangan perpisahan. Setidaknya itulah yang saya rasakan dalam hidup ini. Seperti cerita awal pertemuan kami.
Sudah hampir terkikir habis rasanya kapan tepatnya saya melihat dia, wanita berkulit putih pucat dengan mata besar sayu (tapi bukan kaya zombie ya). Saya masih ingat dengan jelas perasaan saya saat itu. Rasanya seperti ada pesawat yang mendarat menghantam landasan pacu tepat di jatung hati. Berdebar, bingung dan berpikiran kalau dia adalah wanita idaman saya walaupun saat itu saya yakin kalau iq saya jatuhtengkurap secara drastis.
Gak banyak kesempatan saya untuk dapat bertemu dengan diasi kaka kelas kumpulan bintang sekolah, ya saya cuma bisa mandang lihat dari kejauhan. walau sekalinya saya dapat kesempatan untuk berhadapan dengan nya selalu aja ujung-ujung sial. Salting lah, Kejedot pintu lah, kepeleset lah, ingus keluar tiba-tiba lah, jatuh dari kursi lah, jatuh dari tangga lah, jatuh itu lah , jatuh ini lah sampai akhirnya saya sadar kalau perasaan suka dapat membuat iq kita juga ikut jatuh secaradrastis.
Hari itu akhirnya datang, lewat adiknya Julilailah, saya bisa tau nama dan nomor dia. Yak! Her name’s Muhusiah. Nama yang ntah kenapa terdengar anggung pada saat itu. Nama yang dengan sendirinya membuat saya merasa terbang melayang riang gembira. Saking senangnya, saya lupa lagi sakit perut nahan kentut. Tapi, pasca saya mendapatkan nama dan nomornya tak peluang yang saya buat untuk dekat dengannya dan ekspektasi kegembiraan saya jauh berbeda dengan realita yang ada...
Pernah sesekali saya menghubunginya lewat sms atau facebook. Becanda-becanda garing sok dekat dengan nya, sms-sms 5oKs kEr3nZzz G4uL Hhuu,
Me : hA1 1n1 KaK4knYa Jul1lAiL4h yAaaa,,,? Hhuu
Dia : iYa,niCh Chapah iYaah?
Me : (gak bales smsnya, antara saking senangnya atau gegara kontraksi motorik syaraf jari, otak dan mata tiba-tiba).
Tapi, walaupun gak berarti apa-apa tapi saya jadi tau kalau dia gak sesadis wajahnya, rasa senang dan harapan pun kembali muncul pada saat itu.
Detik berganti, menit, jam, hari, minggu, bulan beserta musim pun berganti, gak kerasa satu tahun sudah lamanya saya memendam perasaan itu, perasaan yang selalu mengusik hati sembati diam menanti.
satu tahun sudah saya selalu memperhatikannya, memperhatikan mata coklatnya yang seolah bertambah pudar bila tersentuh cahaya mentari pagi atau rambut hitamnya yang seolah ujung-ujungnya menjadi coklat kemerahan bergantung diikatnya,
satu tahun sudah saya selalu ingin tau tentang nya, di mana rumahnya, lagi apa dia, dengan siapa dia atau hanya sekedar ingin tau apakah dia juga mengingat saya seperti saya yang mendambakannya,
satu tahun sudah saya yang dulu adik tingkat cupu sok brandal urakan yang takut sama kecoa telah bermetamorfoisis berevolusi sesuai dengan teori Darwin menjadi seseorang yang bisa berubah menjadi kadal terbang berbulu monyet hanya untuk membeli panadol di depan komplek rumah.
Hahahahha maksud saya berubah kaka tingkat berandal yang masih saja tetap takut sama kecoa. (catatan kata ibu saya, saya ganteng).
Yuhuuu... and than.....
dengan kekuatan bintang,,, saya mulai memberanikan diri untuk mencari tau tentang Muhusiah lewat teman-temannya. Banyak informasi penting yang saya dapat dari itu seperti kalau ternyata muhusiah adalah lelaki, atau setidaknya kuli bangunan bercangkang putri kerajaan. Setidaknya itulahlah yang saya dapat. Sampai akhirnya saya bertemu dengan teman bernama si Thumek yang juga merupakan teman satu angkatan dia.
Gak banyak pembicaraan yang saya tangkap dari Thumek, tapi pada intinya dia mengaku sudah menembak dan di terima oleh seorang wanita teman satu angkatannya. Dengan bangga dia menunjukan foto wanita itu, yang ternyata adalah Dia Muhusiah, wanita yang saya dekati dan saya puja secara diam-diam selama ini. Sempat gak percaya, dan menanyakan memperjelas hal itu. Sekali lagi dengan bangga dan ketidaktahuan dia akan posisi saya yang menyukai perempuan yang sama Thumek menjelaskan bahwa dia telah resmi berpacaran dengan Perempuan itu.
Me : mantab mek keren, selamat ya heheh (sedikit terbata mengucapkannya)
Thumek : weh jelas lah gue dari pada elu jomblo haha
Me : hahah sialan (dalam hati “bang*at lo!!!)
Sejak hari itu perasaan saya udah gak sama lagi. Cuma perasaan takut ganggu hubungan orang yang saya dapat, perasaan omong kosong dengan menganggap kebahagian teman adalah juga kebahagian saya. Perasaan yang kembali ke titik awal yang hanya menjadi penonton di pinggir lapangan menghayalkan betapa bahagianya si Thumek dan indahnya kisah percintaan mereka,
Dan sampai wanita itu lulus sekolah menengah dasar, hati saya Cuma menjadi bandara khusus keberangkatan yang semakin hari semakin sepi tanpa adanya kedatangan pesawat yang baru.
Catatan : nama pelaku di samarkan dan kalau nanti kamu baca tulisan saya ini, setidaknya semoga tulisan ini bisa bikin kamu sedikit tersenyum, tersenyum manis seperti yang saya tau dan ngingatin kamu kembali pada masa2 itu. Makasih ya cim...


