Selasa, 14 Juni 2016

Dangkal (bukan tulisan untuk dimengerti)

Ini bukan tentang rasa itu

Iya bukan, 

ini bukan seperti cinta pertama.
Ini adalah rasa yang diperbolehkan waktu.

Dia datang Seperti cahaya embun pagi yg membelai hangat tetapi lalu hilang pergi bersama angin.

Ini rasa dimana keraguan bersanding Mesra dengan pengharapan dan dimana ketakutan berbalut serasih dengan kasih.

Bumi pun seolah kehilangan gravitasinya.
Untuk Sekejap Aku melayang, bergoyang, meliuk terbang.

Lalu....

Aku jatuh tenggelam dan terhisap dalam tatap matanya.
Magis....
tatap itu telah menjadi pijakan.
Aku berdiri seolah gravitasi lah yang menahan.

Kami memeluk mesra memenjarakan asa.
Dalam orange yang menggulung kelabu.

Diam termenung dengan jutaan rasa 

"Aku akan melakukan apapun
Aku akan menjadi Kasih, saudara, teman, sahabat, atau budak.
Aku menjadi apapun yang dia butuhkan untuk tetap dekat dengan nya."
Pikir ku....

Mata itu...

Indah melebihi indah
Besi semberani yang mengikat dan berbisa. 

Aku dan dia Diam mematung...
Mematung berpahat topeng

Tapi dia tak pernah salah.
Angin pun terus bertiup.

Ooohhh sial.....
Hujan itu turun karena bodoh ku!
Tak bermaksud aku menghapus pelangi itu sayang.

Tapi apel sudah terasa lemon,
Daunnya sudah terlanjur jatuh di atas Laju aliran sungai yang tak berubah

Detir, takut, lancang aku.
Gemetar dan sedikit sakit saat sentuh itu terasa akan pergi untuk yg terakhir.

Hilang sudah besi semberani itu.
Pergi sudah gravitasi itu.

Dan lalu bumi pun terasa dangkal.




Jumat, 27 Mei 2016

Her.... (Pertemuan....) part I

​Sadar atau enggak, sebenarnya kehidupan kita gak jauh beda seperti stasiun, terminal atau bandara. Iya, karena selalu ada pertemuan yang manis dan pedihnya perpisahan tanpa ikhlasan. Mungkin saking banyaknya pertemuan dan perpisahan yang kita alami sampai-sampai kita sudah gak bisa ngebedain mana lambaikan tangan pertemuan dan yang mana lambaian tangan perpisahan. Setidaknya itulah yang saya rasakan dalam hidup ini. Seperti cerita awal pertemuan kami.

​Sudah hampir terkikir habis rasanya kapan tepatnya saya melihat dia, wanita berkulit putih pucat dengan mata besar sayu (tapi bukan kaya zombie ya). Saya masih ingat dengan jelas perasaan saya saat itu. Rasanya seperti ada pesawat yang mendarat menghantam landasan pacu tepat di jatung hati. Berdebar, bingung dan berpikiran kalau dia adalah wanita idaman saya walaupun saat itu saya yakin kalau iq saya jatuhtengkurap secara drastis. 

Gak banyak kesempatan saya untuk dapat bertemu dengan diasi kaka kelas kumpulan bintang sekolah, ya saya cuma bisa mandang lihat dari kejauhan. walau sekalinya saya dapat kesempatan untuk berhadapan dengan nya selalu aja ujung-ujung sial. Salting lah, Kejedot pintu lah, kepeleset lah, ingus keluar tiba-tiba lah, jatuh dari kursi lah, jatuh dari tangga lah, jatuh itu lah , jatuh ini lah sampai akhirnya saya sadar kalau perasaan suka dapat membuat iq kita juga ikut jatuh secaradrastis. 

Hari itu akhirnya datang, lewat adiknya Julilailah, saya bisa tau nama dan nomor dia. Yak! Her name’s Muhusiah. Nama yang ntah kenapa terdengar anggung pada saat itu. Nama yang dengan sendirinya membuat saya merasa terbang melayang riang gembira. Saking senangnya, saya lupa lagi sakit perut nahan kentut. Tapi, pasca saya mendapatkan nama dan nomornya tak peluang yang saya buat untuk dekat dengannya dan ekspektasi kegembiraan saya jauh berbeda dengan realita yang ada...

Pernah sesekali saya menghubunginya lewat sms atau facebook. Becanda-becanda garing sok dekat dengan nya, sms-sms 5oKs kEr3nZzz G4uL Hhuu, 


Me     : hA1 1n1 KaK4knYa Jul1lAiL4h yAaaa,,,? Hhuu

Dia     : iYa,niCh Chapah iYaah?

Me   : (gak bales smsnya, antara saking senangnya atau gegara kontraksi motorik syaraf jari, otak dan mata tiba-tiba).

 

Tapi, walaupun gak berarti apa-apa tapi saya jadi tau kalau dia gak sesadis wajahnya, rasa senang dan harapan pun kembali muncul pada saat itu.

Detik berganti, menit, jam, hari, minggu, bulan beserta musim pun berganti, gak kerasa satu tahun sudah lamanya saya memendam perasaan itu, perasaan yang selalu mengusik hati sembati diam menanti. 

satu tahun sudah saya selalu memperhatikannya, memperhatikan mata coklatnya yang seolah bertambah pudar bila tersentuh cahaya mentari pagi atau rambut hitamnya yang seolah ujung-ujungnya menjadi coklat kemerahan bergantung diikatnya, 

satu tahun sudah saya selalu ingin tau tentang nya, di mana rumahnya, lagi apa dia, dengan siapa dia atau hanya sekedar ingin tau apakah dia juga mengingat saya seperti saya yang mendambakannya,

satu tahun sudah saya yang dulu adik tingkat cupu sok brandal urakan yang takut sama kecoa telah bermetamorfoisis berevolusi sesuai dengan teori Darwin menjadi seseorang yang bisa berubah menjadi kadal terbang berbulu monyet hanya untuk membeli panadol di depan komplek rumah.

Hahahahha maksud saya berubah kaka tingkat berandal yang masih saja tetap takut sama kecoa.  (catatan kata ibu saya, saya ganteng). 

Yuhuuu... and than..... 

dengan kekuatan bintang,,, saya mulai memberanikan diri untuk mencari tau tentang Muhusiah lewat teman-temannya. Banyak informasi penting yang saya dapat dari itu seperti kalau ternyata muhusiah adalah lelaki, atau setidaknya kuli bangunan bercangkang putri kerajaan. Setidaknya itulahlah yang saya dapat. Sampai akhirnya saya bertemu dengan teman bernama si Thumek yang juga merupakan teman satu angkatan dia.

Gak banyak pembicaraan yang saya tangkap dari Thumek, tapi pada intinya dia mengaku sudah menembak dan di terima oleh seorang wanita teman satu angkatannya. Dengan bangga dia menunjukan foto wanita itu, yang ternyata adalah Dia Muhusiah, wanita yang saya dekati dan saya puja secara diam-diam selama ini. Sempat gak percaya, dan menanyakan memperjelas hal itu. Sekali lagi dengan bangga dan ketidaktahuan dia akan posisi saya yang menyukai perempuan yang sama Thumek menjelaskan bahwa dia telah resmi berpacaran dengan Perempuan itu.


Me          : mantab mek keren, selamat ya heheh (sedikit terbata mengucapkannya)

Thumek : weh jelas lah gue dari pada elu jomblo haha

Me          : hahah sialan (dalam hati “bang*at lo!!!)

 

Sejak hari itu perasaan saya udah gak sama lagi. Cuma perasaan takut ganggu hubungan orang yang saya dapat, perasaan omong kosong dengan menganggap kebahagian teman adalah juga kebahagian saya. Perasaan yang kembali ke titik awal yang hanya menjadi penonton di pinggir lapangan menghayalkan betapa bahagianya si Thumek dan indahnya kisah percintaan mereka, 

 

Dan sampai wanita itu lulus sekolah menengah dasar, hati saya Cuma menjadi bandara khusus keberangkatan yang semakin hari semakin sepi tanpa adanya kedatangan pesawat yang baru.

 

 

Catatan : nama pelaku di samarkan dan kalau nanti kamu baca tulisan saya ini, setidaknya semoga tulisan ini bisa bikin kamu sedikit tersenyum, tersenyum manis seperti yang saya tau dan ngingatin kamu kembali pada masa2 itu. Makasih ya cim...

 

 



Kamis, 26 Mei 2016

Yogya Istimewa

Kata mereka Jogja itu adalah kota yang istimewa.
Kearifan lokal yang Masih terjaga, ragam makanan khas nya, keindahan kotanya, banyaknya destinasi tempat wisata, keramahan warganya yang selalu memberikan senyum kepada para pendatang. Serta tentu saja tidak lupa biaya kehidupan yang masih terjangkau. Wajar lah  Kalau jogja di juluki sebagai kota yang istimewa.

Tapi apa benar jogja  kota yang istimewa?
Mungkin bagi para pelancong atau wisatawan yang merasakan hal itu akan Langsung sepakat kalau memang benar bahwa jogja benar2 adalah kota yang istimewa. Tapi tidak bagi saya.

Bagi Saya jogja sama saja Seperti Kota2 yang lainnya di Indonesia, tak ada keistimewaan yang cukup membuat saya terkesan dengan nya. 
Jogja hanya termasuk salah satu destinasi kota liburan dan juga dikenal sebagai Kota pelajar untuk mereka ingin menuntut ilmu seperti saya.

Di mata saya jogja bukan lah Kota yang istimewa. Jogja hanya lah Kota yang memberikan saya pelajaran bagaimana untuk tetap bertahan dan hidup untuk tumbuh kembang menuju kedewasaan.
Dari jogja saya tau kalau pepatah "kehidupan bagaikan roda" itu benar-benar nyata.

Dari jogja saya belajar bagaimana caranya untuk menjadi orang yang picik dan culas Dengan sedikit pengalaman kelam dan pahit. Menipu teman, sahabat, kerabat, keluarga bahkan ayah dan ibu saya hanya untuk mendapatkan apa yang saya mau. 
Jogja lebih mendekatkan saya dengan gemerlap malam. Nikmatnya tegukan demi tegukan air surga dunia itu. Indahnya hasrat bercinta sepasang anak adam dan hawa. Dan isapan hela demi hela hembusan asap daun terlarang itu.
Serta berbagai macam penghianatan yang saya lakukan kepada orang lain.

Dari jogja saya mengerti bagaimana nestapa sakitnya perpisahan. 
Jogja mengajarkan saya pedihnya kehilangan serta detirnya dikhianati.
Jogja pun tak lupa untuk memberitahu saya bagaimana rasanya di remehkan di cemooh di benci dan di kucilkan oleh orang-orang. 
Jogja seperti menjadi seorang tutor bagi saya untuk terus melangkah berjalan dalam hidup.

Tapi dari jogja juga lah saya belajar apa itu arti bertahan dan kegigihan, menjalani proses yang tiada ujungnya.
Jogja mengajarkan saya bagaimana caranya untuk tetap bertahan dari kejamnya hidup.
Bertahan tanpa uang seperpun untuk makan. 
Jogja mengajarkan saya untuk tetap berakting semuanya baik meski rindu telah tercabik.
Dari jogja saya belajar bagaimana untuk tetap bertahan meski semua orang memandang remeh sebelah mata. 
Dia mengajarkan saya untuk tetap bertahan memegang teguh mimpi-mimpi saya. 

Tak jarang jogja pun tersenyum kepada saya, karena dari jogja jualah saya mendapat kesempatan menyicipi indahnya perjalanan hidup.
Seperti serunya apa itu persahabatan, tolong menolong dengan sesama dan Percaya pada mereka
Jogja mengenalkan saya apa itu manisnya pertemuan.
Makan nasi bebek goreng yang pedesnya minta ampun, makan ayam rica2 pedes di bawah jalan playover atau mie rebus dengan kuah susu murni.
Berjalan bersama untuk beli makan atau berbelanja kebutuhan sehari2 di pamela maupun mirota.

Dari jogja saya tau asik nya ngebir bareng, atau sekedar perasaan benar2 bahagia liburan di gunung berapi, bercanda dan bergandeng tangan di Kebun binatang kota, menaiki hajar dan berfoto ria dengan satwa2 di sana.
Jogja telah memberikan waktunya untuk saya 
Menatap mata mu, mengecup kening mu, aroma tubuhmu.
Jogja mempersilahkan saya memeluk erat dirimu sepenuh kasih dengan berjuta harapan. Merajut kenangan2 yang tak terlupakan.
Jogja lah yang menuntun saya untuk mengucap janji2 setulus hati dengan beraninya kepada kamu.

Jogja juga telah memberikan saya pengalaman2 konyol.
Berperang dengan cecak dan kecoa.
Menggigit kuku, bibir yang mengecap2 sendiri, melihat Dia mendengkur, atau di dandani ala banci rombeng dengan alis cetar dan bibir merah merona.
Tak lupa shiro si motor putih yang bandel. Atau pengalaman aneh seperti melihat nenek cantik di depan kontarakan. Bunyi lonceng dan derap langkah prajurit. Nyanyiin sinden dan gamelan di pagi buta  Atau si mumun teman sekamar yang kadang kerap muncul di alam mimpi.

Jogja juga telah memberikan saya pengalaman spiritual.
Dari jogja saya belajar bagaimana caranya mengenal Dia. Sang Kholiq melalui kreasi2 hebatNYA
Dari jogja saya belajar untuk menjalankan syariatnya serta berdoa setulus hati untuk mereka yang percaya kepada saya. 
Mencoba membahagia mereka yang berharap kepada saya. Ayah Dan Ibu.

Jogja telah benar2 menjadi sesosok ibunya tanpa wujud bagi saya.
Dia mengajarkan saya banyak hal.
Mengajarkan saya detail nya kehidupan dari A sampai Z. 

Jadi apakah jogja itu istimewa?
Tidak!

Bagi saya jogja itu tidak istimewa. 
Jogja hanyalah kota yang mempunyai tempat di hati saya.
Kota yang akan terukir dalam perjalanan kisah hidup saya, karena jogja adalah benar2 kota yang spesial.

Terimakasih.